Urgensi Merahasiakan Amalan
Urgensi Merahasiakan Amalan merupakan kajian Islam yang disampaikan oleh: Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A. dalam pembahasan Amalan-Amalan Hati. Kajian ini disampaikan pada Jumat, 25 Sya’ban 1447 H / 13 Februari 2026 M.
Kajian Tentang Urgensi Merahasiakan Amalan
Tujuan utama seseorang dalam beribadah tiada lain kecuali Allah, dengan orientasi sepenuhnya pada akhirat. Oleh karena itu, seorang hamba senantiasa menjaga kerahasiaan amalannya dan keberadaan dirinya. Ia menyadari bahwa dirinya diciptakan untuk akhirat dan beramal hanya untuk Allah. Apabila manusia mengetahui kondisi, keadaan, serta detail amalannya, hal tersebut dikhawatirkan dapat merusak perjalanan hidup dan keikhlasannya.
Konsep Ashabus Sirri dan Al-Akhfiya
Imam Ibnu Qayyim Rahimahullahu Ta’ala, saat menjelaskan perkataan Abu Ismail al-Harawi, menyebut orang-orang yang merahasiakan amalannya sebagai Ashabus Sirri. Mereka adalah orang-orang yang tersembunyi (Al-Akhfiya), yang keutamaannya disebutkan dalam hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Hal ini dikisahkan dalam sebuah riwayat ketika putra Sa’ad bin Abi Waqqas Radhiyallahu ‘Anhu berkata kepada ayahnya:
أَنْتَ هَاهُنَا وَالنَّاسُ يَتَنَازَعُونَ فِي الْإِمَارَةِ
“Wahai ayahku, Anda masih di sini sementara orang-orang sedang memperebutkan kedudukan.”
Maka Sa’ad bin Abi Waqqas Radhiyallahu ‘Anhu menjawab dengan mengutip sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ
“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, yang kaya (hatinya), dan yang tersembunyi (tidak menonjolkan diri).” (HR. Muslim).
Menjaga Ketulusan di Era Media Sosial
Orang-orang yang merahasiakan amalan dan keberadaan dirinya adalah pribadi yang mulia. Mereka senantiasa menjaga keikhlasan dalam setiap ibadah serta waspada terhadap hal-hal yang dapat menodai ketulusan niat dan mengotori kebeningan hati.
Kesadaran ini sangat dibutuhkan di zaman sekarang, terutama di era media sosial yang menjadi sarana publikasi berbagai aktivitas. Saat ini, banyak hal yang bersifat pribadi dan rahasia justru diumbar kepada publik. Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran orientasi, di mana seseorang lebih mengutamakan pengakuan manusia dan popularitas dibandingkan ridha Allah ‘Azza wa Jalla.
Perlu menjadi perhatian bersama bahwa ambisi untuk dikenal luas dalam aktivitas ibadah justru dapat merusak niat dan menodai kesalehan jiwa. Sebagaimana ditegaskan dalam hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ
“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, yang kaya (hatinya), dan yang tersembunyi (tidak menonjolkan diri).” (HR. Muslim).
Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai hamba yang bertakwa, yaitu mereka yang melaksanakan perintah Allah berdasarkan syariat dan hanya mengharapkan pahala serta ridha di sisi-Nya tanpa perlu diketahui oleh khalayak.
Seseorang yang bertakwa adalah mereka yang meninggalkan larangan agama dan menjauhi kemurkaan Allah ‘Azza wa Jalla berdasarkan ilmu karena takut akan azab serta siksaan-Nya. Selain sifat takwa (at-taqi), kriteria hamba yang dicintai Allah adalah yang memiliki kekayaan jiwa (al-ghani). Kekayaan yang dimaksud di sini bukanlah melimpahnya harta benda, melainkan kekayaan jiwa. Harta bukanlah standar kemuliaan dan jabatan bukanlah landasan kebahagiaan serta kesuksesan yang sesungguhnya.
Hal ini sejalan dengan doa yang senantiasa dipanjatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kemuliaan diri, dan kekayaan (hati).” (HR. Muslim).
Selain itu, kriteria berikutnya adalah al-khafi, yaitu hamba yang menyembunyikan ketakwaannya, amalannya, serta keberadaan dirinya dari pandangan manusia. Inilah golongan hamba yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka menyadari bahwa tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah. Ibadah mencakup seluruh ketaatan, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang dicintai dan diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.
Semua aktivitas tersebut dilakukan murni karena Allah (lillah), sebagaimana ikrar yang selalu diucapkan:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Katakanlah (Muhammad), Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. Al-An’am[6]: 162).
Hamba yang beruntung adalah hamba yang senantiasa mencari ridha Allah ‘Azza wa Jalla dan beramal hanya untuk-Nya. Ia menyembunyikan berbagai ketaatan untuk menjaga hati dan jiwanya agar tidak dinodai oleh noda kesyirikan serta keinginan duniawi saat melaksanakan ibadah.
Wali Allah yang Tidak Dikenal Manusia
Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan kondisi seorang hamba yang mungkin tidak dipandang oleh manusia. Secara lahiriah, ia tidak diperhitungkan; jika ia meminta sesuatu akan ditolak, jika memberikan rekomendasi tidak akan didengar, dan jika ingin memasuki suatu tempat maka pintu akan tertutup baginya. Penampilannya mungkin kusam dan berdebu, namun di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, ia memiliki kedudukan yang sangat mulia.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
رُبَّ أَشْعَثَ أَغْبَر، مَدْفُوعٍ بِالْأَبْوَابِ، لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللهِ لَأَبَرَّهُ
“Betapa banyak orang yang rambutnya kusut, berdebu, sering ditolak di pintu-pintu (karena dianggap rendah), namun seandainya ia bersumpah kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya.” (HR. Muslim).
Tidak semua orang yang bersumpah atas nama Allah akan dikabulkan permintaannya. Namun, hamba yang memiliki hubungan spesial dengan Allah, yang senantiasa merahasiakan ketaatannya, adalah wali Allah yang dicintai-Nya meskipun manusia tidak mengenalnya. Jika ia memohon sesuatu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah akan mengijabah dan memenuhi apa yang terkandung dalam permohonannya tersebut.
Hakikat Kemuliaan dan Semangat Menuju Ridha Allah
Kemuliaan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak dinilai dari penampilan lahiriah, pakaian, perawakan fisik, kecantikan, ketampanan, maupun harta benda. Penilaian Allah ‘Azza wa Jalla terletak pada hati dan amalan hamba-Nya. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim).
Aspek inilah yang harus menjadi orientasi dan perhatian utama. Pada zaman sekarang, kemudahan media sosial sering kali menggoda seseorang untuk mempublikasikan berbagai kegiatan, termasuk ritual ibadah. Dokumentasi dapat dilakukan dengan mudah melalui berbagai perangkat dalam setiap kondisi dan tempat. Setan memanfaatkan kondisi ini untuk membisikkan keinginan agar seseorang membagikan dokumentasi ibadahnya demi mendapatkan pengakuan dari orang lain.
Hal tersebut merupakan permasalahan yang perlu dicermati. Hamba yang dicintai Allah adalah hamba yang bertakwa dan berusaha merahasiakan amalannya, kecuali untuk amalan yang memang harus dilakukan secara berjamaah atau terang-terangan seperti shalat di masjid atau melaksanakan ibadah haji. Selain itu, ada pula amalan yang diperlihatkan demi memberikan motivasi positif bagi orang lain, seperti bersedekah untuk menginspirasi donasi. Namun, pada dasarnya, hubungan antara hamba dan Allah adalah sesuatu yang harus dijaga kerahasiaannya.
Tiga Sifat Hamba yang Dicintai Allah
Imam Ibnu Qayyim Rahimahullahu Ta’ala, saat menyadur perkataan Imam al-Harawi, menjelaskan tiga sifat hamba yang merahasiakan amalannya:
- At-Taqqi: Orang yang bertakwa.
- Al-Ghani: Orang yang kaya hati dan jiwanya.
- Al-Khafi: Orang yang merahasiakan amalan dan ketaatannya.
1. Semangat yang Tinggi
Sifat utama mereka adalah Uluwwul Himmah atau memiliki semangat yang tinggi dalam melakukan kebaikan. Seseorang dengan semangat yang tinggi tidak akan membiarkan apa pun membendung langkahnya menuju ridha Allah ‘Azza wa Jalla. Ia tidak mencari pengganti Allah sebagai tujuan hidupnya, tidak akan menjual agamanya, serta tidak membiarkan modal hidupnya dicuri oleh kepentingan duniawi. Ia enggan menukar kebahagiaan sejati di sisi Allah dengan kenikmatan semu di dunia.
Perumpamaan orang yang memiliki semangat tinggi (Himmah Aliyah) adalah seperti burung yang terbang di ketinggian luar biasa. Burung yang terbang tinggi sulit diganggu oleh pemburu atau pemangsa sehingga ia lebih selamat. Sebaliknya, burung yang terbang rendah sangat mudah menjadi korban gangguan.
Semakin tinggi semangat seorang muslim dalam beribadah dan beragama, semakin jauh ia dari hal-hal yang dapat merusak jiwanya. Namun, saat semangat dan orientasi hidup seseorang sangat rendah, ia akan mudah menjadi korban dari berbagai godaan yang merusak niat dan amalannya.
Tingginya semangat (himmah) seseorang dalam meraih kebaikan dan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan bukti kesuksesan serta keberuntungannya. Sebaliknya, semangat yang rendah adalah tanda bahwa seseorang terhalang dari berbagai kebaikan.
2. Kebeningan Niat (Safaul Qalbi)
Hamba ini memiliki niat yang suci dan bersih dari berbagai noda yang dapat menghalangi tujuan utamanya, yaitu Allah ‘Azza wa Jalla. Orientasi hidupnya semata-mata terkonsentrasi pada urusan agama dan perintah Allah, bukan pada kepentingan duniawi.
3. Perjalanan yang Benar (Sihatus Suluk)
Sifat ini mencakup keselamatan dalam perjalanan hidup dari berbagai ancaman, rintangan, dan hal-hal yang dapat memutuskan hubungan dengan Allah ‘Azza wa Jalla. Ia memiliki perjalanan yang lurus dan selamat dari segala penghalang ridha Allah.
Prinsip Tauhid dalam Beramal
Imam Ibnu Qayyim Rahimahullahu Ta’ala merangkum sifat-sifat tersebut dengan ungkapan bahwa seorang hamba hendaknya menjadi pribadi yang tunggal, hanya demi Dzat Yang Maha Esa, di atas jalan yang satu.
Maksudnya, ia tetap konsisten beramal lillahi Ta’ala meskipun orang lain tidak melakukannya. Jalan yang ditempuh hanya satu, yaitu jalan Allah dan Rasul-Nya, karena tidak ada jalan lain yang dapat menghantarkan pada ridha Allah ‘Azza wa Jalla kecuali jalan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sebagaimana firman-Nya:
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ
“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah! Janganlah kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. Al-An’am[6]: 153).
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga menegaskan jalan dakwah ini melalui firman Allah:
قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي
“Katakanlah (Muhammad), ‘Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin’.” (QS. Yusuf[12]: 108).
Melaju dalam Kebaikan Tanpa Jejak
Kesimpulannya, seseorang yang merahasiakan amalan adalah mereka yang tulus beribadah dan teguh mengikuti garis yang ditetapkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tujuan dan jalannya tidak pernah berubah maupun berwarna-warni; perjalanannya hanya satu warna, yaitu putih, bersih, dan suci.
Karena tingginya semangat mereka, hamba-hamba ini tidak hanya terpaku pada satu ritual ibadah tertentu, melainkan berlomba-lomba dalam segala bentuk kebaikan. Mereka melaju begitu cepat dalam ketaatan sehingga keberadaannya sering kali tidak disadari oleh manusia. Mereka beramal bukan untuk mencari pengakuan, bahkan jejak perjalanannya pun tidak ingin diketahui oleh orang lain. Saat orang lain baru memulai perjalanan, mereka telah melaju jauh menuju satu tujuan pasti, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Karakteristik Hamba yang Merahasiakan Amalan
Hamba yang dicintai Allah ‘Azza wa Jalla tidak menitikberatkan eksistensinya pada pengakuan manusia. Mereka beramal semata-mata karena Allah ‘Azza wa Jalla tanpa menisbatkan diri pada kelompok, tarekat, atau simbol tertentu. Identitas utama mereka hanyalah sebagai pengikut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Mereka tidak membatasi diri pada satu jenis ibadah saja, melainkan menjadi hamba Allah (Abdullah) dalam segala kondisi. Mereka mengambil bagian dari setiap bentuk ketaatan, baik yang wajib maupun yang sunnah, berupa perkataan maupun perbuatan. Kehidupan mereka adalah ibadah secara mutlak; tidak hanya berkutat pada dzikir atau puasa saja, tetapi melaksanakan setiap perintah yang mampu dilakukan demi menghambakan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Imam Ibnu Qayyim Rahimahullahu Ta’ala menjelaskan prinsip hidup hamba tersebut sebagai berikut:
- Pemimpinnya: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
- Konsep Hidupnya: Al-Ittiba’ (mengikuti tuntunan Nabi).
- Pakaiannya: Pakaian takwa, tanpa memerlukan atribut khusus sebagai ciri khas atau simbol eksistensi.
- Madzhabnya: Tahkimus Sunnah (menjadikan sunnah sebagai pemutus perkara dan pegangan hidup).
- Tujuan Utama: Mencari wajah (ridha) Allah ‘Azza wa Jalla.
Tempat utama mereka dalam beribadah adalah masjid atau rumah-rumah Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فِى بُيُوتٍ أَذِنَ ٱللَّهُ أَن تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا ٱسْمُهُۥ يُسَبِّحُ لَهُۥ فِيهَا بِٱلْغُدُوِّ وَٱلْـَٔاصَالِ ﴿٣٦﴾ رِجَالٌ لَّا تُلْهِيهِمْ تِجَٰرَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ وَإِقَامِ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءِ ٱلزَّكَوٰةِ ۙ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ ٱلْقُلُوبُ وَٱلْأَبْصَٰرُ ﴿٣٧﴾
“Di rumah-rumah yang di sana Allah telah memerintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya, di sana bertasbih mensucikan nama-Nya pada waktu pagi dan petang, orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari yang (pada waktu itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.” (QS. An-Nur[24]: 36-37).
Banyak manusia di zaman sekarang lalai dari dzikir, shalat, dan membaca Al-Qur’an karena kesibukan bisnis serta perdagangan. Namun, hamba yang bertakwa (taqi) dan tersembunyi (khafi) tidak akan membiarkan transaksi dunia melalaikannya dari kewajiban kepada Allah. Mereka berbaur dengan kaum muslimin tanpa menonjolkan simbol tertentu, tetap berinteraksi secara sosial, namun hati mereka tetap bening dan senantiasa menjaga kerahasiaan ketaatan.
Menjaga Hati di Era Digital
Pada zaman sekarang, kita diuji dengan berbagai kemudahan media sosial yang memicu keinginan untuk mempublikasikan setiap kegiatan. Dokumentasi seolah menjadi syarat kesempurnaan dalam beramal. Hal ini berpotensi dimanfaatkan oleh setan untuk mengubah niat hamba.
Seseorang tidak perlu merasa khawatir jika amalannya tidak diketahui manusia. Keyakinan bahwa malaikat telah mencatat setiap kebaikan dalam lembaran catatan amal sudah sangat cukup. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf[50]: 18).
Oleh karena itu, rahasiakanlah amalan sebisa mungkin, kecuali amalan yang memang tidak dapat disembunyikan seperti shalat berjamaah bagi laki-laki. Seorang laki-laki yang sehat dan mendengar adzan wajib mendatangi masjid. Jangan sampai bisikan setan berupa kekhawatiran akan dianggap riya menghalangi seseorang dari kewajiban ini (talbis iblis). Adapun untuk amalan sunnah, maka merahasiakannya adalah lebih utama, kecuali jika terdapat tujuan mendesak seperti memotivasi orang lain dalam bersedekah.
Upaya Menjaga Keikhlasan dan Merahasiakan Amalan
Setiap hamba hendaknya berusaha menyembunyikan amalan ketaatan, seperti membaca Al-Qur’an, berzikir, menuntut ilmu, serta bersedekah. Hal ini sangat penting untuk menjaga kebeningan hati, mengingat setan selalu berusaha mengubah niat dan merusak nilai amalan. Seseorang mungkin mengawali sedekah dengan ikhlas, namun banyaknya pujian yang datang dapat mengubah suasana hati sehingga muncul sifat sum’ah (ingin didengar) dan riya.
Fenomena ibadah yang disiarkan secara langsung melalui media sosial, seperti saat melaksanakan umrah, haji, atau sekadar belajar Al-Qur’an, merupakan perkara yang berbahaya bagi kemurnian niat. Meskipun tidak diperkenankan menghakimi isi hati seseorang, setiap individu wajib menutup segala celah dan sarana yang dapat digunakan iblis untuk merusak hati. Menjaga stabilitas hati memerlukan perjuangan yang dilakukan secara berkelanjutan.
Keteladanan Salafus Saleh dalam Keikhlasan
Tingkat keikhlasan para salafus saleh dalam beribadah sangat menakjubkan. Sebagian dari mereka menyembunyikan amalan bahkan dari orang terdekatnya. Dikisahkan ada yang menyempurnakan dzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla di atas tempat tidur hingga istrinya menyangka ia telah tertidur. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya upaya mereka agar ketaatan tersebut tidak diketahui oleh siapa pun.
Imam Syafi’i Rahimahullahu Ta’ala pernah mengungkapkan keluhuran niatnya dalam berilmu:
“Aku menginginkan agar manusia mengambil manfaat dari ilmu dan buku-bukuku tanpa perlu menisbatkan satu huruf pun kepadaku.”
Sikap ini berbanding terbalik dengan kondisi banyak manusia saat ini yang cenderung mencari pujian. Sebagian orang merasa setiap amalannya harus diekspos demi kepentingan duniawi atau pencitraan, kecuali segelintir orang yang diberi taufik oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Puasa sebagai Madrasah Keikhlasan
Bulan Ramadhan merupakan momentum pembelajaran yang luar biasa. Puasa adalah amalan khusus antara seorang hamba dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Para ulama menyebutkan bahwa puasa adalah ibadah yang sulit dimasuki oleh sifat riya secara lahiriah.
Umat Islam diajak untuk belajar merahasiakan amalan melalui ibadah puasa dan ibadah lainnya, kecuali pada amalan yang tidak mungkin disembunyikan seperti shalat Tarawih berjamaah di masjid. Dalam hal sedekah dan donasi, menyembunyikannya adalah lebih utama agar terhindar dari penyakit hati. Semoa Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menjaga hati kita, menerima amal ibadah, dan menjauhkan kita dari sifat riya, sombong, serta angkuh. Diharapkan Allah menanamkan sifat ikhlas, rasa takut, serta harapan yang tulus kepada-Nya agar kita menjadi orang yang beruntung di dunia dan akhirat.
Download MP3 Kajian Urgensi Merahasiakan Amalan
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56072-urgensi-merahasiakan-amalan/